Wawacan karaman I

Muhammad Ziaulhaq, S.Th.I

Anoe katjatoer mimiti …
Boeboeka ieu tjarita …

Kisah dalam naskah Rasiah Pringan ini terjadi ketika nagri Bandung dipimpin oleh Kanjeng Adipati Wiranata Koesoema. Putra dari Dalem Bintang, seorang Dalem Karanganyar. Kepribadian Dalem Bandung sangat bijak bestari, adil, sabar, dan shaleh. Giat beribadah, selalu memuji Gusti dengan berbagai puji-pujian. Menyembah kepada Yang Maha Mulya, Gusti Allah Yang Agung, serta selalu bershalawat kepada Rasulullah saw. Kanjeng Dalem sangatlah kaya. Banyak uang banyak sandang-pangan. Hewan ternak tak terhitung. Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing, Ayam, Entog, Bebek, dan Angsa.

Pada masa itu Patih Bupati dijabat Raden Aria Angga Adikoesoemah. Dengan kepribadian gagah dan berkesan. Bijaksana nan budiman. Beristri Ayu Simbar. Seorang Patih turunan Dalem Gajah. Patih yang sangat setia, patuh, dan taat kepada perintah Dalem.

Jurutulis Patih dijabat oleh Raden Djajakoesoemah yang gagah dan berkesan, paling pintar di masanya. Pasih berbicara dan menarik dalam tutur kata. Jurutulis pandai membujuk manis, sedap dalam pengucapan, dan baik budi.

Ketika itu Bandung diperintah oleh Asisten Residen Nagel. Dia memerintah Bandung sampai akhir hidupnya. Nagri Bandung maju, gemah ripah tur raharja. Jalan-jalan diatur rapih. Saluran air dibangun. Tegalan dan pedataran dibuka, dibersihkan dan dirapihkan.

Komandan prajurit dijabat oleh Raden Mertadiradja. Seorang Letnan Perang. Senapati nagri Bandung, membawahi seratus prajurit. Berperawakan tinggi, pemberani, berjanggut lebat, dan berkumis tebal. Ditakuti para prajurit.

Sersannya seorang Belanda bernama Tuan Reijs.
Prajurit Sunda bernama Ki Martagoena, dan kopralnya bernama Mastaredja.
Pimpinan yang mengepalai pulau Jawa adalah Raden Djajapoespita, menak dari Jawa Timur.

Jaksa nagri Bandung yang memimpin kepolisian adalah Raden Demang Mangoennagara yang mengurusi keadilan di nagri Bandung. Penghulu Agung di Bandung, bernama Raden Ardi, pemimpin keagamaan bernama Raden Haji Abdurrahman.

Jurutulis kantor Bupati bernama Ki Tumenggung Raden Adinagara, yang berbudi dan tidak pernah mengecewakan. Pengurus Bende di Paseban adalah Ki Lengser Pa Sawali, berpangkat paling kecil, yang mengumumkan semua perintah Bupati. Kumetir Kopi dijabat oleh Den Mandoeraredja. Mantri dalam nagri dijabat oleh Den Sastranagara putra Kanjeng Adipati Wiranata Koesoema.

Wedana Rongga bernama Mas Kétapraja. Wedana Cihea bernama Najadjibdja. Wedana Cisondari bernama Den Wangsakoesoema. Demang Rajamandala bernama Mas Wangsapraja, yang memimpin distrik Rajamandala. Wedana Ciparay bernama Rangga Abukari. Wedana Majalaya bernama Den Rangga Anggawiredja, asal Parakanmuncang. Jaksa di Majalaya, dan mengepalai kepolisian bernama Mas Djajadipa.

Wedana Ujungberung bagian timur bernama Raden Raksamanggala. Wedana distrik Banjaran bernama Den Satjanagara, bergelar Aria, dan menjabat dengan titel Aria Satjanagara. Wedana distrik Cicalengka bernama Raden Anggadiredja putra Kanjeng Bupati. Wedana Cimahi bernama Den Wiranagara putra Anggadinata, seorang mantan Jaksa nagri Bandung yang kemudian diganti oleh Biskal Mangoennagara.

Wedana Blubur Limbangan bernama Mas Arsaen. Wedana distrik Tarogong bernama Den Raksadiraja. Wedana Cikembulan bernama Rangga Djajaredja, yang disayangi oleh Asisten Residen. Wedana Lembang bernama Raden Ardikusuma, seorang menak berbudi dan pintar, putra pertama Tumenggung Raden Adinagara yang berkantor di Bandung.

Residen di Cianjur ketika itu adalah Tuan Van Der Kapellen. Bupati Cianjur bernama Kanjeng Adipati Raden Prawiradiredja. Patih Cianjur bernama Den Natanagara. Penghulu Cianjur bernama Moeh’mad Djen. Jaksa nagri Cianjur bernama Raden Tisnadilaga. Komandan prajurit yang membawahi seratus prajurit bernama Raden Soerianagara, putra Kanjeng Bupati. Sersan Prajurit seorang Belanda bernama Tuan Gracman. Sersan Sunda bernama Djajengjoeda. Kopral bernama Ki Arsani. Bis-kopral bernama Wangsakarama.

Gerakan Karaman Raksaparadja

Raksaparadja berasal dari nagri Majalengka. Berikrar turunan Wali. Orang Bandung menyebutnya Ama Resi Raksaparadja, dipanggil Mah Resi. Kesehariannya mengajar Ilmu Weduk dan Ilmu Sakti. Ilmu Jaya Kejayaan dan Ilmu Menghilang. Murid-murid pun bertambah banyak, bahkan ada yang berasal dari menak nonoman di dayeuh Bandung. Dia seorang guru yang sembunyi di Bandung. Kiai yang bertujuan hasil materi. Pastinya tukang memperdaya membodohi para murid.

Raksaparadja melamun. Berniat tidak baik. Membuat pemberontakan untuk menguasai nagri Bandung. Membasmi semua menak agar duduk di kursi kekuasaan. Rencananya pergi ke Selatan, disana ada Pasanggrahan yang strategis dijadikan benteng pertahanan dan markas prajuritnya. Pasanggrahan berada di Gunung Tjajoer yang tinggi dan datar, menghadap ke laut pesisir. Letak pasanggrahan berada di wilayah nagri Cianjur, distrik Cidamar batas tanah Sukapura, dan Bungbulang sebagai batas nagri. Tepatnya berada di kampung Cikawung.

Untuk menjalankan rencananya, Raksaparadja menyamar sebagai Maha Resi. Bersama rombongan pengikut, mereka berangkat malam hari dari Bandung. Berjalan kearah sisi Laut. Melewati Pangalengan kemudian ke Caringin dan masuk ke Cisewu yang berada dibawah distrik Cidamar.

Dalam setiap perjalanan Raksapradja mengaku Maha Resi, seorang Pangeran Panembahan. Seorang waliyullah yang kuat dan sakti. Mengaku Prabu Sang Ratu Halipatullah, Raja Sunda yang adil. Masyarakat kecil daerah pesisir banyak yang tertarik bujuk rayunya. Mereka tunduk dan taat. Harta benda pun diserahkan. Beras, ayam, Ikan Laut dan Ikan darat, Kancil, dan Kijang.

Setelah sampai, Raksaparadja dan para pengikutnya mulai mendirikan markas di tanah datar yang menghadap ke laut. Rumah-rumah dibangun seperti keraton. Rumah para penjaga berjajar, yang dikepalai oleh Senapati. Berderetan pengikut Raksaparadja, Maha Wiku yang diagung-agungkan, dielu-elukan dengan sebutan Ratu Sunda pemimpin nagri.

Para pengikut sudah mencapai ratusan. Mereka berasal dari kampung-kampung, dari dusun-dusun. Siang malam selalu berpesta makan-minum. Menjagal Kerbau yang diambil dari tegalan orang lain. Menjarah padi dan beras. Tiap hari datang ke kampung-kampung. Orang yang tidak setuju kabur dari kampungnya, sedangkan mereka yang takluk diiring ke Pasanggrahan. Pasanggrahan menjadi sejahtera. Tombak dan senjata siap sedia, hasil dari menjarah kampung. Peluru dibeli dari Bandung oleh pengikutnya yang menyamar jadi pedagang.

Guru palsu Raksapraja siang malam mengajarkan ilmu kesaktian kepada ratusan pengikut. Ilmu kuat oleh senjata, ilmu agar kulit kuat oleh peluru. Semuanya hormat, sembah sujud mengkultuskan Maha Resi, disebut Sinuhun Gusti.

Orang-orang Desa yang ditaklukkan Raksaparadja berasal dari kampung Bantar Kamuning, Cikaso, Cidaun, dan Pangalengan. Kepala kampung yang tidak takluk lalu kabur, berjalan dan masuk ke Sindangbarang dan melaporkan hal tersebut ke petinggi distrik.

Untuk angkatan perang, Raksapraja melantik 10 Senopati. Yang pertama bernama Bapa Kasman disebut Pangeran Génjreng. Kedua Bapa Isman disebut Pangeran Bradjagelap. Ketiga Bapa Kainem disebut Pangeran Bradjaloemajoe. Keempat Aki Santi disebut Pangeran Senapati. Kelima Pa Kainah disebut Pangeran Bradjagantang. Keenam Aki Raiman disebut Pangeran Grantangtjoer’ga. Ketujuh Bapa Raesin disebut Pangeran Ombaksagara. Kedelapan Bapa Alnam disebut Pangeran Aria Bradjagéni. Kesembilan Bapa Ajoemah disebut Pangeran Poerbabaja. Kesepuluh Bapa Hasim disebut Pangeran Oejoenglaoetan. Itulah sepuluh orang yang dijadikan kepala prajurit.

……….
Pakean geus diganti,
Baju hideung laken sénting anoe aloes,
Sarta dipasmenan emas
Dina beuheung leungeun sami.

Calana lépas kapalang,
Lakén hideung jeung make samping batik,
Njoren kerisna dipoengkoer,
Katoehoe njoren gobang,
Ti kentjana nya njoren deui balieung,
Langkung ginding orang sisi
(Pangkoer)

Ambu Hawuk: Ratu Prameswari Panembahan

Kampung Bunihayu distrik Karang nagri Sukapura.

Dikisahkan Ki Paninggaran Alikarama berburu Rusa dan Banteng di hutan. Di tengah hutan dia menembak Banteng, tetapi tetap hidup tidak rubuh sampai kehabisan peluru. Kemudian ditinggalkan Banteng itu. Dia pergi mencari perkampungan di daerah sekitar hutan. Dilamunannya, semoga dia dapat bertemu seseorang yang mempunyai peluru, karena tak habis pikir kenapa Banteng itu tidak dapat rubuh dan mati!

Pada suatu kampung di distrik Karang.
Ki Paninggaran Alikarama melihat seorang wanita cantik jelita sedang menenun.

“Maaf Nyai, boleh ikut menumpang sekedar untuk istirahat dari rasa lelah?”
“Ooh, silahkan!” jawab wanita tadi sambil melapangkan tikar, “kenapa Aki bisa sampai ke tempat ini. Tersesat di tengah hutan?”

Sambil istirahat Ki Paninggaran menjelaskan bahwa dia mau minta bantuan, jikalau Nyi Mas punya timah atau bubuk besi yang tidak terpakai. Di hutan tadi dia menembak Banteng tapi tidak rubuh sampai kehabisan peluru. “Kalau memang ada, Nyi Mas mau jual berapa?”

Tanpa basa basi, wanita itu masuk kedalam. Tak lama kemudian dia keluar menghampiri Ki Paninggaran Alikarama sambil membawa wadah. Ki Paninggaran Alikarama kaget tidak kepalang. Dengan tersentak. Sambil mata melotot kaget. Isi wadah itu ternyata peluru yang dia tembakkan ke Banteng di hutan tadi! Heran.

“Pantas saja Banteng tadi tidak roboh, karena memang tidak ada yang kena!”
“Semua peluru ini memang kena ke tubuhku, tapi tidak ada yang menembus sedikitpun. Hanya menempel ke kain kebaya dan baju,” jawab Nyi Mas tenang, “ lalu semua peluru ini dikumpulkan. Sekarang silahkan ambil kembali semuanya. Sebab saya tidak punya senapan. Silahkan ….!”

Dengan penuh hormat dan kaget, Ki Paninggaran Alikarama segera mengambil semua pelurunya dan segera pamit undur pulang.

“ Saya pamit pulang, tapi sebelumnya…. Sebenarnya Nyi Mas ini siapa?”
“ Saya Ambu Hawuk. Ini rumah saya. Tiap hari hanya bertani dan menenun sendirian.”

Ki Paninggaran Alikarama segera pergi ke hutan dan meneruskan perburuannya.

Dengan hasil buruan.
Ki Paninggaran Alikarama bercerita tentang Nyi Ambu Hawuk yang kuat ditembak peluru kepada teman-temannya. Dia yakin kalau wanita tersebut adalah wanita sakti titisan Dewata. Lalu mengajak teman sekampung agar belajar berbagai kesaktian. Berguru ilmu sihir pada Ambu Hawuk.

Datang dari tiap kampung berbondong-bondong menemui Ambu Hawuk. Meminta agar sudi mengangkat murid. Berbagai hadiah diserahkan, makan enak, uang banyak, daging Ayam, daging Kambing dan sebagainya. Semuanya dihaturkan untuk Ambu Hawuk.

Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Guru Ambu Hawuk semakin terkenal. Buah bibir ditiap kampung. Didatangi berbagai orang. Semua berharap jadi pengikutnya. Berguru ilmu kebal peluru. Berlatih ilmu sakti dan sihir.

Setelah merasa jumlah murid cukup banyak. Guru Ambu Hawuk lalu mendatangi perkampungan dan pedesaan. Semakin banyak kampung didatangi, bertambah pula murid dan pengikut. Langkah perjalanan sampai di kampung Kolelega yang berada di bawah nagri Bandung distrik Tarogong. Setelah banyak yang takluk dan berubah menjadi pengikut setia, Ambu Hawuk mendengar bahwa ada satu kerajaan baru di pesisir pantai. Di sana telah berkumpul sepuluh Pangeran, yang selalu setia kepada Sang Pangeran Aria Raksaparadja.

Setelah berunding dengan para pengikut, Ambu Hawuk sepakat untuk pergi ke Raksaparadja. Para pengikut berjalan melalui kampung Cisurupan, kemudian ke Tegalpadung. Lalu sampai ke tempat istana Raksaparadja.

Penjaga benteng mengibarkan tanda. Benteng dadakan yang dibuat dari kayu dan bambu yang diruncingkan. Ada tamu seorang Guru sakti Nyi Dewi Ambu Hawuk! Dengan seragam dinas yang lengkap sepuluh Pangeran segera menyambut hormat.

“Putri Dewata,.. silahkan segera masuk ke Istana!”

Setelah masuk istana, Panembahan Raksaparadja segera menyambut dan mempersilahkan duduk di tahta singgasana.

“Panembahan! Hamba bersama para pengikut jauh-jauh datang kemari agar mendapat kemuliaan. Kemuliaan dari Panembahan yang telah termasyhur di Pasundan. Raja penguasa wilayah Sunda. Hamba ingin berserah ikut bergabung bersama Paduka!” Rayu Ambu Hawuk.

Raksaparadja sudah paham pada keinginan Ambu Hawuk. Segera dia dijadikan Ratu Prameswari Panembahan, Nyai Ratu Sekar Datulaya, dipanggil Neng Dewi Sekar Kadaton.

Sementara di tiap distrik …

Wedana Cidamar mendapat laporan ada pemberontakan di pesisir pantai. Kepala Karaman dikenal dengan nama Raksaparadja, dan istrinya Ambu Hawuk. Mereka memiliki banyak prajurit. Telah diangkat sepuluh pangeran. Dibentuk para prajurit yang saban hari diajarkan perang di Tegalan oleh para Senopati.

Segera Wedana Cidamar melapor ke Bupati nagri Cianjur:
Telah ada pemberontakan yang dikepalai Raksaparadja yang siap berperang. Dia datang dari nagri Bandung, dari desa Regol. Dia berasal dari Majalengka, dan menjadi guru ilmu sihir.

Segera Wedana Bungbulang melapor ke Bupati nagri Sukapura:
Telah ada pemberontakan yang dikepalai Raksaparadja yang siap berperang. Dia datang dari nagri Bandung, dari desa Regol. Dia berasal dari Majalengka, dan menjadi guru ilmu sihir.

Wedana Banjaran Aria Satjanagara pun mendengar kabar adanya pemberontakan. Telah banyak orang terpengaruh. Termasuk orang Pangalengan. Segera dia melapor ke Bupati nagri Bandung.

Kepada Bupati Bandung yang terhormat!
Telah ada pemberontakan di sisi sagara Cidamar – Kandangwesi. Yang menjadi lurah Karaman adalah Raksaparadja dari desa Regol, di sisi kota kraton Bupati. Asalnya dari nagri Majalengka. Sekarang telah mengumpulkan wadia-balad. Telah diangkat sepuluh senopati. Berita dari Polisi sépion gelap, Pangeran Génjreng menjadi senopati, Pangeran Bradjagélap menjadi Tamtama, Pangeran Bradjasakti, Pangeran Baradjagrantang, Pangeran Bradjagéni dan para pangeran lainnya. Dan ada satu wanita, yaitu Ambu Hawuk, asalnya orang Karang di bawah nagri Sukapura, dan telah menjadi istri permaisuri Raksaparadja. Itulah berita dari Polisi Rahasia.
Sembah Sujud ….
Satjanagara
Wedana Distrik Banjaran

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s