wawacan karaman II

Nagri Garut

Den Wadana panembong oendjoekan roesoeh …
Ka garoet ka Kanjeng Goesti …
Ka Dalem Dipati Loehoeng …

Segera Wedana Panembong melapor ke Bupati Garut:
Telah ada pemberontakan yang dikepalai Raksaparadja yang siap berperang. Raksaparadja datang dari nagri Bandung, dari desa Regol, yang asalnya adalah orang Majalengka, dan menjadi guru ilmu sihir.

Kemudian Bupati Garut pun segera memberikan berita ini kepada Bupati Sumedang. Sekarang telah ada lima para Bupati tanah priangan yang mengetahui pemberontakan Raksaparadja, yaitu: Bupati Cianjur, Bupati Bandung, Bupati Garut, Bupati Sukapura, dan Bupati Sumedang.

Lalu Bupati Garut segera mengumpulkan prajurit sebanyak enam puluh orang. Komandan prajurit adalah Den Djajalogawa. Sersan Belanda di nagri Garut Tuan Hejbran. Sersan Sunda yaitu Djajawigoena. Kopralnya bernama Suraniti. Biskopral bernama Astawana. Lalu dikumpulkan juga dua puluh orang jagoan, yaitu Den Danukoesoemah, Den Déndadilaga, Raden Wargadjibdja, dan Mas Djajasoeta. Asisten-Residen nagri Garut ketika itu bernama Tuan Van Der Moere, yang berpangkat Kashouder.

Dari Garut telah sepakat untuk menghancurkan pemberontakan. Mereka berangkat mengarah ke pesisir, mengambil jalan lewat Tegalpadung.

Nagri Cianjur

Ngotjapkeun soerat noe hidji…
Lapor wadana Tjidamar…
Geus katjandak koe pagoesten…

Bupati Cianjur, Kanjeng Dalem Aria Prawiradiredja sangat kaget mendengar laporan dari Wedana Cidamar. Segera Raden Patih dipanggil. Wadia-balad dikumpulkan. Alat-alat perang disiapkan, tombak, pedang, bedil, mimis, dan pistol.

Dalem Aria Prawiradiredja unjuk hadir menghadap Tuan Van Der Kapellen di kantor keresidenan. Menjelaskan perihal pemberontakan Raksaparadja. Seorang guru sihir dari Bandung, orang desa Regol, asalnya orang Majalengka. Dengan semua murid dan pengikutnya, telah diangkat 10 panglima perang. Mereka berasal dari kampung-kampung dan orang pinggiran pantai. Siap berperang membuat kerusuhan.

“Terima kasih, saya telah diberitahu. Sekarang Tuan Regent, silahkan bersiap sedia, kumpulkan komandan dan para prajurit. Lalu kita tangkap para pemberontak di pesisir Selatan!” kata Asisten Residen.

Lalu Residen segera membuat laporan kepada pemerintah di Batawi. Dan membuat surat perintah kepada para Bupati agar ikut serta memadamkan pemberontakan Raksaparadja.

Di kebupatian Cianjur.

Patih Aria Natanagara segera memerintahkan Ki Lengser agar memukul bénde di Paseban. Mengumpulkan semua prajurit agar bersiap diri. Enam puluh prajurit disiapkan. Kepala komandan bernama Raden Soerjanagara. Bersiap pula sersan, kopral. Kemudian dipilih para jagoan ketika itu, diantaranya Raden Djajabrata, Ateng Aliasgar, Abang Djereng, Abang Samirun, Ateng Widara, Raden Haji Ibrahim, Ateng Alimoedin, dan lainnya.

Setelah Asisten Residen Datang, Regent telah siap dengan pasukan. Diiringi para menak, senopati, tamtama, dan rakyat Cianjur. Semua mulai pergi berperang.

Nagri Bandung

Kertapati mawa surat …
Ti Bandjaran langkoeng gasik …
Ka Bandung harita dongkap …
Disanggakeun ka Den Patih …
Ladjeng ka Kandjeng Goesti …

Bupati Bandung, Kanjeng Adipati Wiranata Kusuma kaget mendengar laporan itu. Pemberontakan yang didalangi oleh orang di kota Bandung, tepatnya dari desa Regol. Patih langsung diperintah menyiapkan wadia-balad. Lalu membuat surat ke lima belas distrik di Bandung. Tak luput juga Ki Lengser Sawali yang memukul bénde di Paseban, tanda semua prajurit harus berkumpul.

Bupati Bandung segera menemui asisten Residen Nagel di Lodji. Mengabarkan ada laporan dari distrik Banjaran tentang pemberontakan di daerah Selatan yang dilakoni oleh orang Regol dari Bandung, Raksaparadja. Bermarkas di sisi pesisir bawahan distrik Cidamar. Berbatasan dengan Kandangwesi. Nagel pun telah mengetahui hal tersebut, karena datang pula surat Residen di Cianjur.

Di Paseban telah berkumpul, Patih Bupati yang ditemani Demang Biskal Den Mangoennagara, komandan Mertadiredja, Koemétir Raden Mandoerarédja, dan para pejabat lainnya: Raden Sastranagara dan Kertakoesoemah. Setelah semua mengetahui perihal pemberontakan Raksaparadja, kumpulan dibubarkan untuk mempersiapkan perbekalan dan senjata.

Keesokan harinya, prajurit telah berkumpul kembali. Para Wedana dari lima belas distrik telah berdatang ke kota Bandung dengan senjata lengkap. Asisten Residen hadir, dan Bupati memimpin di atas kudanya yang bernama Si Megantara.

Boom… meriam pun ditembakkan sebanyak salikur (21) kali…

Rombongan perang bergerak melalui jalan Banjaran, Cimaung, Cikalong, Pangalengan, lalu ke Cidamar di Pantai Selatan. Sementara keraton di Bandung, yang tidak ikut serta dan ditugaskan untuk menjaga nagri adalah Patih Aria Angga Adikoesoemah, Raden Tumoenggoeng Adinagara, Juru Tulis Raden Natasoera, Asisor Bupati Raden Natadiradja, dan seorang umbul dari distrik Leles Raden Soemadiparadja.

Nagri Sukapura

Ajeuna anoe katjatoer …
Regen Soekapoera tampi …
Serat lapor ti Boengboelang …

Setelah mendengar laporan dari Wedana Bungbulang, Bupati Sukapura menerima surat dari Residen di Cianjur. Maka disiapkan empat puluh prajurit pilihan. Tetapi semua prajurit tersebut diserang dengan tiba-tiba di tengah hutan. Semuanya hampir mati, sebagian yang selamat lari ke nagri Sukapura melaporkan serangan tersebut.

Maka dikirim balabantuan dengan jumlah lebih banyak. Komandan parajuritnya adalah Wedana distrik Taraju Ki Mas Rangga Dipawangsa, yang disertai dua orang putranya Mas Nilasoeta seorang Sarapati di Manonjaya. Dan Mas Batawiria yang berpangkat senopati.

Pengepungan Panembahan Raksaparadja

Regent Cianjur telah sampai ke tempat Raksaparadja, di Tegal di sisi sagara sebelah Barat. Kemudian Residen segera memerintahkan untuk menyerang. Dari keraton Raksaparadja pun balas menyerang. Saling tembak meriah. Lalu dari sebelah Timur Datang wadia-balad dari Sukapura, lalu menyerang keraton Raksaparadja dari sebelah Timur.

Dari sebelah Utara datang pasukan Bandung. Lalu para prajurit bersiap. Perang pun dimulai di sebelah Utara. Datang dari arah Tegalpadung pasukan Bupati Garut. Pasukan terus merangkak perlahan. Saling tembak. Saling lempar tombak.

Mayat bergelimpangan di keraton Raksaparadja. Yang masih hidup segera kabur. Yang berhasil ditangkap, lalu diringkus. Yang kabur dikejar dan tertangkap di semak-semak. Setelah berhari-hari kabur mereka letih tidak makan.

Raksaparadja dan Ambu Hawuk pun berhasil kabur dengan lima belas pengikutnya, termasuk tiga orang Pangeran. Mereka lari kearah Timur. Di hutan Tegalpadung rombongan Raksaparadja bertemu dengan pasukan Sukapura pimpinan Wedana Taraju dan dua putranya. Perang tanding berkecamuk. Saling banting. Saling tebas. Saling pukul. Akhirnya sebagian rombongan Raksaparadja berhasil ditaklukkan, termasuk tiga orang pangeran.

Pasukan dari Cianjur berhasil menangkap Pangeran Baradjagelap, Pangeran Bradjagéni, Pangeran Géndjreng, dan Pangeran Ombaksagari.

Para pangeran ngaringkoek,
Djeung baladna paraprajurit,
Pirang-pirang anu beunang,
Koe balad bandoeng kagodi,
Koe tjianjur oge rea,
Ditalian pageuh tarik,
( Kinanti )

Sergapan Distrik Majalaya

Camat Majalaya Wirakoesoemah dan pasukannya melakukan penyergapan di tengah Gunung Wayang. Dekat hulu Citarum di sisi Cikundul. Gandek Camat bernama Bapa Kiar, Pacalang bernama Bapa Marti dari Desa Ibun, Pacalang Desa Nengkelan Bapa Sarwiém, dan Pacalang Ciburial bernama Bapa Djahid.

Datang rombongan Raksaparadja.

Tjamat ngomong he Karaman koedoe taloek…
Koe kami rek ditjangkalak…
Maneh oelah loempat deui …

Raksaparadja menyerang Wirakoesoemah. Saling tebas pedang. Saling tangkis. Wirakoesoemah terus diserang Raksaparadja. Bapa Kiar menarik Baju Mas Camat dan terus berada di belakangnya. Bapa Sarwijém kena pukulan tak sadarkan diri. Kepala Bapa Djahid pun terkena pukulan keras, lalu lari sempoyongan dan jatuh ke jurang. Bapa Marti tertangkap oleh pasukan Raksaparadja, dibanting, ditarik dan digusur.

Perang tanding Raksaparadja dan Mas Wirakoesoemah semakin sengit. Raksaparadja tidak kuat, lalu kabur. Camat hanya berhasil menangkap seorang yang bernama Pangeran Gédoeghalimoen anak Ratna Dewi Ambu Hawuk, asal Karang. Camat sangat marah pada gelagat tawanannya, lalu dicekik hingga rubuh. Bapa Kiar segera mengikat tawanan itu.

Wirakoesoemah membawa tawanan ke Pangalengan. Lalu menemui Bupati Bandung untuk melapor, mulai dari penyergapan sampai ditangkapnya tawanan ini. Tawanan diperiksa oleh Bupati. Lalu Camat menjelaskan bahwa tawanan ini bernama Pangeran Gédoeghalimoen anak Ratna Dewi Ambu Hawuk, nama aslinya Madjasim asal Karang.

Dalem Bandung sangat gembira. Lalu Wirakoesoemah diberi gelar kehormatan dan keberanian yaitu Raden Raksanagara. Bapa Kiar diberi hadiah 25 bau sawah dan harus pindah ke dayeuh Bandung. Sementara Bapa Djahid akhirnya bisa kembali selamat setelah lari dari serangan pasukan Raksaparadja. Sementara Bapa Marti yang tertangkap dibunuh oleh Raksaparadja di tengah Gunung.

Gugurnya Petinggi Kancil Nalawangsa

Setelah kewalahan melawan sergapan Wirakoesoemah, Raksaparadja, Ambu Hawuk, dan pasukannya yang tersisa lari melalui Kolelega. Di Kolelega, Raksaparadja disergap oleh Petinggi Kancil dan para polisi. Petinggi Kancil bernama Nalawangsa. Kancil berada di distrik Wanakerta di bawah nagri Garut.

Kedua pasukan bertemu. Perang tanding pun semakin sengit. Raksaparadja langsung menyerang Petinggi Kancil. Saling tebas. Saling tangkis. Petinggi Kancil terkepung pasukan Raksaparadja. Lalu mereka menyerang, menebas dengan keras Petinggi Kancil. Tubuh Petinggi Kancil rusak berdarah. Sebagian teman-temannya kalah dan kabur menyelamatkan diri. Nalawangsa akhirnya gugur.

Setelah perang mulai selesai. Pasukan Raksaparadja langsung lari menelusuri gunung kearah Timur. Bertujuan ke Majalengka. Di tengah jalan rombongan sementara bermarkas dulu di puncak Gunung Galunggung.

Melihat pasukan Raksaparadja telah pergi, mayat Petinggi Kancil Nalawangsa diambil oleh teman-temannya. Dikubur ditempat gugurnya, di atas Gunung Daradjat. Kuburan itu ada sampai sekarang.
Sok rea anoe njalékar,
Ka Mas Nalawangsa makam Patinggi,
Djalma satia mitoehoe,
Kana parentah menak,
Toeroeg2 maot sabil’oellah aloes,
Poepoes dina pangpérangan,
Teu moendoer doegi ka mati

Pasukan Nagri Sumedang

Kotjap kandjéng dalém Soemédang keur mégat…
Di Tasikmlaja districk …
Geus sayagi pisan …

Bupati Sumedang dan para Wedana menjaga perbatasan Tasikmalaya. Dengan pasukan bersenjata lengkap. Wedana Malangbong Raden Soerajoeda berjaga di distrik Indihiang, ditemani Madhasan. Bersama Wedana Indihiang Mas Paranadita yang dikawal Joedamanggala dari Cisayong.

Terdengar kabar angin bahwa Camat Majalaya dan pasukannya telah mati ketika berperang dengan Raksaparadja. Sebab Raksaparadja sangat sakti dan kuat. Malah Petinggi Kancil telah terbunuh di Gunung Daradjat. Mendengar kabar itu, penduduk Indihiang dan Tasik gempar dan khawatir. Semua harta benda disembunyikan. Sebagian lalu mengungsi.

Bupati Sumedang memerintahkan tiap distrik agar menenangkan masyarakat. Supaya tidak takut. Harus berani membela. Setelah ditenangkan, rakyat pun menjadi berani kembali ke rumah masing-masing.

Ditengah ricuh dan tegang di distrik Indihiang.

Datang dua orang dari nagri Kuningan berjalan melewati gunung-gunung. Ditengah gunung yang sepi keduanya bertemu rombongan Raksaparadja yang sedang melarikan diri dan bersembunyi di Gunung Galunggung. Mereka dirampok. Uang dan barang dirampas. Lalu dibawa ke Raksaparadja yang sedang kelaparan. Mereka hanya berbekal umbi-umbian, akar-akaran, dan pucuk bambu. Raksaparadja menyuruh mereka berdua untuk turun ke desa sambil membawa uang, dan kembali dengan membawa beras, garam, ikan, dan terasi. Karena takut, keduanya menuruti keinginan sang Panembahan dan Putri Prameswari Dewi Hawuk.

Akhirnya kedua orang Kuningan tadi sampai di kampung Cisayong. Kebetulan mereka bertemu dengan Joemanggala. Keduanya ditanya:

“Kamu berdua dari mana? Harus terus terang dengan benar! Ada perlu apa datang kepada kami.” Tanya Joedamanggala.
“Kami berdua diperintah Raksaparadja agar membeli makanan, beras, ikan, garam, dan terasi. Ini uangnya berjumlah sepuluh rispis!” jawab mereka ketakutan.

Petinggi Cisayong kaget tak kentara.

“Apakah itu benar?”
“Mereka berada di dataran puncak gunung Galunggung. Kepalanya bernama Raksaparadja. Ditemani sepuluh orang termasuk istrinya Ambu Hawuk.”

Dengan penuh gembira Petinggi segera menyuruh dua orang tersebut agar kembali ke persembunyian Raksaparadja sambil membawa makanan pesanannya. Tapi ketika sampai, agar diberitahukan bahwa di bawah sana ada tempat aman yang dihuni dua buah rumah. Lalu mereka pamit.

Kemudian Joedamanggala segera melapor ke Wedana Malangbong Den Soerajoeda dan Wedana Indihiang Mas Paranadita. Mereka bersiap. Pasukan dan polisi dilengkapi dengan senjata perang. Ketiga petinggi tersebut segera maju ditemani oleh para Lurah dan petinggi lainnya.

Raksaparadja setelah mendapatkan makanan yang enak-enak, tergiur berita dua orang tadi. Dengan gembira rombongan turun gunung ke kampung Cisayong.

Di tengah jalan yang agak sempit. Para Wedana, Petinggi, dan pasukan bersembunyi siap menyergap. Ketika rombongan Raksaparadja tepat ke tempat itu. Pasukan langsung menyerang. Raksaparadja langsung menebaskan pedang. Saling serang. Saling tangkis. Pasukan Raksaparadja kewalahan. Kurang tenaga karena sekian lama berjalan. Kurang makan dan istirahat membuat mereka kelelahan. Raksaparadja lemas. Tangan kanannya terkena sabetan pedang Mas Patinggi. Darah bercucuran. Raksaparadja diserang bertubi-tubi. Kali ini dadanya yang jadi incaran. Lalu dia melompat. Sempoyongan. Lalu jatuh ke dalam jurang yang baru saja longsor. Terguling-guling masuk lumpur di bawah jurang dengan luka yang menganga bekas sabetan pedang Petinggi.

Pasukan Raksaparadja pun tak kalah sengit menyerang pasukan Wedana. Seorang karaman menyerang Wedana Soerajoeda. Saling banting saling tangkis. Akhirnya karaman kalah terbunuh. Seorang karaman menyerang Wedana Paranadita, lalu ditebas pinggang Karaman. Seorang karaman menyerang seorang Petinggi, lalu ditebas leher karaman. Tiga mayat pun bergelimpangan.

Pasukan Raksaparadja hanya tinggal lima orang, enam dengan Ambu Hawuk mereka menyerah. Sementara yang kedelapan adalah dua orang Kuningan yang menjadi spion polisi.

Semuanya takluk. Ditangkap dan diborgol. Dua orang Kuningan dijadikan saksi untuk memberikan keterangan, mereka berjasa karena menolong penangkapan rombongan Raksaparadja.

Tawanan diiring ke distrik Tasikmalaya. Dihadapkan ke Dalem Tasik. Dengan gembira, Bupati memberikan gelar Rangga kepada dua orang cutak yang berjasa, lalu jabatan dinaikkan menjadi Camat. Dua orang kuningan diberi hadiah uang seribu. Lima ratus tiap-tiap orang. Keduanya bersyukur lalu pamit pulang.

Dalem Tasikmalaya segera menulis laporan ke Residen di Cianjur, menerangkan pasukan Raksaparadja telah ditangkap.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s