Wawacan Karaman III

Surat Rahasia Raksaparadja

Sebelum terjadi penyerangan besar ke markas Raksaparadja, dia mengutus seorang karaman untuk memberikan surat ke Patih Aria Angga Adikoesoemah dan Raden Djajakoesoemah.

Ditengah hutan, karaman itu bertemu dengan pasukan nagri Bandung pimpinan Raden Mértadiredja. Lalu karaman menghindar dan kabur. Melihat gelagat yang mencurigakan, pasukan Raden Mértadiredja langsung mengejar. Karaman tertangkap. Digusur. Digeledah. Surat yang disembunyikan pun jatuh ke tangan komandan. Melihat surat tersebut, komandan memerintahkan agar karaman itu dijaga oleh empat orang. Tangannya diborgol. Ketika perang berkecamuk, si karaman dijaga dibelakang pasukan Raden Mértadiredja.

Lalu surat rahasia diserahkan kepada Dalem Wiranatakoesoema yang sedang berada di pesisir laut. Si karaman ditanya:
“Kamu sebenarnya mau ke mana? Dan nama kamu siapa? Jawab yang benar! Jangan berbohong!”
“Gusti Dalem, rumah saya ada di dalam nagri Bandung, tepatnya di Regol. Nama saya Mastawana. Sehari-hari saya mengikuti Raksaparadja. Saya ditugaskan ke Bandung untuk memberikan surat kepada Patih Aria dan Jurutulis Raden Djajakoesoemah.” Jawab karaman.

Kemudian Dalem Bandung segera memberikan surat ini kepada Residen yang masih berada di sisi Laut.
“Terima kasih atas kesetiaan Komandan yang sudah mendapatkan surat rahasia. Kesetiaan para Bupati sudah sangat terasa. Berhasil memadamkan pemberontakan sebelum menjadi kerusuhan dan huru-hara di dalam negeri. Semua telah binasa dengan kegagahan, kesetiaan, dan keperkasaan para Bupati.” Kata Residen.

“Sekarang Patih Bandung dan Juru tulis harus segera dibuang. Segera bawa ke Cianjur bersama dengan para pemberontak yang tertangkap. Dan sekarang semua silahkan pulang ke nagri masing-masing dengan selamat!” lanjutnya.

Para Bupati, para Wedana, para komandan, para prajurit, dengan semua tawanan dan harta rampasan berbondong-bondong kembali ke nagri masing-masing. Di sisi laut Kidul penuh dengan rombongan-rombongan. Ada yang ke Timur. Ke utara. Dan ke Barat. Ada yang membawa rampasan. Yang terluka dan masih bernyawa diangkat memakai tandu. Semua riuh ramai berteriak kemenangan.

Sambutan di Dayeuh Bandung

Sementara di dayeuh Bandung semua sibuk menyambut prajurit yang menang perang. Semua hiburan disiapkan di Paseban. Makan siap dihidangkan. Semua gembira. Para menak senang dengan kemenangan ini. Para petinggi sibuk menyambut Bupati dan pasukannya di keraton.

Tetapi lain hal dengan Raden Aria Patih dan Jurutulis. Mereka mendapat ilapat yang tidak enak. Ada apa gerangan! Ibarat akan datang ajal dari Allah. Terdengar kabar yang tidak enak. Membuat tidur susah hati gundah. Tapi semua adalah jalan Yang Kuasa.

Setelah Dalem Bandung dan Asisten Residen berada di keraton. Den Ayu Parameswara menyambut kedatangan mereka. Makanan telah dihidangkan di atas meja. Dipersilahkan duduk di atas alkétip, yang merupakan bagian dari adat Sunda. Diluar Puri gamelan ditabuh. Goong Degung dimainkan. Tanjidor dimainkan di babancong dayeuh. Salendro dimainkan oleh Réngit yang berasal dari Mataram. Yang bernyanyi dengan indah adalah Nyi Pajo dari Bandung.

Semuanya berpesta. Tak ada yang ketinggalan. Setiap hari pesta sampai setengah bulan lamanya. Pesta nadar keselamatan.

Di lain tempat.
Aria Patih dipanggil oleh Dalem Bandung. Diperintah harus segera menghadap ke Residen di Cianjur. Patih Aria Angga Adikoesoemah dan Raden Djajakoesoemah, dibawa ke Cianjur dengan kawalan Tumenggung Raden Adinagara, mantri Raden Sastranagara, dan Koemétir Raden Mandorarédja.

“Gusti Dalem, sebenarnya ada gerangan apa hamba dipanggil ke Cianjur?”
“Saya tidak tahu banyak. Lihat saja nanti di Cianjur, apa yang akan dikatakan Tuan Residen. Yang pasti, kalau dipanggil pasti ada urusan. Jangan bertanya pada saya, Tanya saja diri Aria Patih sendiri, sebenarnya apa yang sedang dirasakan!”

Dijawab demikian, Raden Patih pamit sambil menangis meminta ampunan dari Kanjeng Dalem.
Arja Patih njémbah bari nangis,
Doeh Padoeka Goesti anoe moelja,
Njoehoenkeun hapoentén géde,
Pangampura disoehoen,
lépat abdi goesti pamoegi
dampal Dalém ngampoera,
ka abdi noe loepoet,
kandjeng Bopati ngandika,
koela sédja hapoentén pisan ka Patih,
koemambang Noe Kawasa,
(Dangdanggula)

Vonis Angga Adikoesoemah

Kepulangan Kanjeng Adipati Prawiradiredja dan Resisden disambut dengan meriah di dalam kota. Meriam ditembakkan 25 kali. Kesenian Lisung, Karinding, dan Gamelan ditabuh. Setelah perang menaklukkan pemberontakan, sambutan ini membuat para prajurit bergembira.

Di satu kesempatan.
Dalem Prawiradiredja dan Tuan Residen sedang bersantai di Lodji. Lalu datang Patih Bandung Angga Adikoesoemah yang dikawal oleh Sastranagara, Adinagara, dan Mandoediredja. Lalu Patih Bandung diperiksa oleh Jaksa nagri Cianjur di depan Dalem Cianjur dan Tuan Residen.

Setelah pemeriksaan selesai. Surat dilayangkan untuk meminta keputusan Tuan Besar di Batawi. Tak lama. Vonis pun telah turun. Patih Bandung dihukum buang ke Selong selama dua puluh tahun. Angga Adikoesoemah berat menerima keputusan ini. Air mata tak tertahankan. Perpisahan dengan anak istri tak terelakan. Jabatan dicabut dengan tidak hormat. Dengan perih akan cobaan Angga Koesoemah bermunajat:

………….
Ja Allah noe Moelja,
sédja tobat djisim abdi,
néda dihampoera dosa

teu roemaos djisim abdi gindi-pikir, hénteu owah niat, teu gadoeh dosa saeutik, piténah Raksaparadja.

Dalah Koemaha atoeh diri sim abdi, geus doegi ka goerat, teu rumasa gindi-pikir, naon kaboektianana.

Amoeng moega2 bae diri abdi, kenging kaslamétan, koe pitoeloengna Jang Widi, djeung sapa’at Rasoe’oellah.

Soegan bae djaga-djagana di akhir, aja pangbalésna, ka poetra-poetrana sami, diboeang tjara kaoela,

Katarima koe Gusti Jang Maha Soetji, soepata Aria, disaksian koe Jang Widi, sarawoeh koe Malaikat.
(Maskumambang)

Pesta Kemenangan di nagri Garut

Kotjapkeun nagara Garoet,
Kandjeng dal ém prantos tjoendoek

Kedatangan pasukan nagri Garut disambut meriah. Dalem Garut dielu-elukan. Tuan Kashouder, Tuan Van Dér Moer, dan pasukan beristirahat menikmati sambutan dari rakyat Garut. Mereka bersukaria. Meriahkan kemenangan sebagaimana yang diadakan di Bandung dan Cianjur.

Diceritakan bahwa Tuan van der Moer selanjutnya diangkat sebagai Residen di nagri Cianjur, kemudian dia pindah ke Bandung tepatnya di Cicendo. Para pemberontak yang takluk dibelenggu. Lalu di penjara. Setelah itu mereka dikirim ke Cianjur.

Pesta di alun-alun Garut dimeriahkan dengan pagelaran Ujung (oejoeng) yang sudah biasa diadakan di Garut. Para pemain Ujung saling pukul dengan rotan. Ujung dimainkan oleh laki-laki yang kuat dan berani, memakai pakaian yang bagus, dan memakai topeng balakoetak. Topeng terbuat dari bahan kulit berwarna ungu, ada juga yang berwarna hitam. Lalu dipakai di kepala dengan tali. Tali ditarik di Dagu (tali ngangreud dina gado). Topeng balakoetak berwajah lucu. Bentuk topengnya sangat bagus seperti topeng-topeng dari Wayang Golek. Pemain memakai celana Sontog. Bajunya terbuat dari sutra yang berwarna hijau atau ungu dengan desain seperti Joki kuda balap. Lalu ujung dimainkan dengan iringan gamelan. Para emain Ujung mulai menari dengan gaya menantang lawanya. Kemudian mereka maju saling pukul.

Dengan rotan sebesar jari. Pemain Ujung saling tebas. Saling pukul. Betis, Pinggang, tumit, dan Punggung jadi sasaran. Setelah mulai saling pukul, suasana memanas, lalu mereka menyerang menyergap lawannya. Perkelahian terjadi. Mereka saling dorong sampai lawannya rubuh. Pemain yang rubuh artinya dia kalah. Setelah merasa kalah, lawan langsung mundur dengan badan penuh memar biru bekas pukulan rotan. Badan para pemain biasanya memar-memar sampai seminggu. Demikian kesenian Ujung di Garut, sebagaimana halnya di Sumedang dan Sukapura. Hanya di Bandung dan Cianjur saja yang tidak ada permainan ini.

Sejarahnya Ujung dilarang dimainkan pada tahun 1871 M. Gubernur ketika itu tidak suka pada seni Ujung, maka dibuat aturan baru yang melarang Ujung karena merupakan kesenian yang tidak baik.

Sambutan Kemenangan Orang Sukapura

Kanjeng Dalem Sukapura dan pasukan telah datang ke alun-alun Sukapura. Semua berbahagia. Senapati Wedana Taraju Ki Mas Rangga Dipawangsa dengan Kuda jantan berwarna Abu-Putih dielu-elukan. Diiringi oleh Lurah Djoengdjang Karawat yang lengkap dengan seragam kewedanaan dan dilengkapi Pedang Panjang di pinggang. Demikian halnya dengan para pasukan lain yang dengan gagah menyambut sambutan orang Sukapura. Ki Mas Nilasoeta dan adiknya Batawiria berjalan dengan gagah merasa telah menang peperangan. Ketiga orang tersebut telah berperang adu tanding di Tegalan melawan Pangeran Goentoersagara, Pangeran Genjreng, dan Pangeran Ombaksagara. Mereka terluka tebasan ditubuh. Dibelenggu dan dipenjara dengan terluka. Gelar pangeran sudah tidak pengaruh lagi. Kembali ke asal dengan nama Bapa Radjiman, Bapa Kasman, dan Bapa Edeng.

Orang Sukapura berdatangan ke alun-alun. Pesta berlangsung lima hari lima malam. Kesenian Ronggeng, Ogel, Doger dan alat-alat kesenian ditabuh.

Pesta Orang Sumedang

Kepulangan Dalem Sumedang dan pasukan dari pemberantasan karaman disambut oleh orang Sumedang dan para menak di alun-alun. Para Karaman banyak tertangkap oleh pasukan Sumedang di daerah Indihiang.

Semua karaman yang berhasil ditangkap oleh lima pasukan Kebupatian Garut, Bandung, Cianjur, Sumedang, dan Sukapura dikirimkan ke keresidenan di Cianjur.

Vonis Jurutulis

Raden Djajakoesoemah telah berangkat dari Bandung ke Cianjur untuk menerima vonis. Dibuang ke nagri Ambon selama dua puluh tahun. Hampir semua karaman pun dihukum dua puluh tahun lamanya. Kecuali bagi Ambu Hawuk, hanya dihukum selama lima tahun di Surabaya.

Jabatan Patih Bandung diserahkan kepada Raden Adinagara, menjadi Aria Patih Bandung Raden Adinagara. Jabatan Tumenggung kantor Bupati yang mengepalai Jurutulis dijabat oleh Den Soemajoeda, yang asalnya sebagai jurutulis Koemétir Mandoerarédja. Pengganti Djajakoesoemah adalah jurutulis Paseban yaitu Satjakoesoemah.

Duapuluh tahun kemudian …

Akhir cerita setelah dua puluh tahun lamanya. Raden Angga Adikoesoemah bisa pulang kembali ke dayeuh Bandung dengan selamat dan membawa seorang putra bernama Raden Djajamoestapa. Istrinya yang dahulu, Raden Ayu Simbar putri Dalem Kaum, kakaknya Bupati Bandung telah menikah kembali dengan mantan Biskal nagri yang bernama Raden Anggadinata.

Sementara Raden Djajakoesoemah tidak ada kabar berita setalah dibuang ke nagri Ambon. Ambu Hawuk setelah lima tahun masa pembuangan, bisa kembali ke tempat tinggalnya di distrik Karang hingga meninggal dunia.

Kitoe hikajat karaman, anoe koe abdi katoengtik, sakitoe katranganana, sésahna kaliwat saking, nja kenging bibirintik, ti sépoeh noe paos kalboe, noe langgéng emoetanna, namoeng eta doeka teuing, lamoen lépat moega néda pangampoera.

Hapoentén ka sadayana,
Ka noe ngaos ka noe ngoeping,
Ieu wawatjan karaman,
Kirang atanapi leuwih
Ménggahing dina dangding,
Moega sadaja ngama’loem,
Kérsa ngaleréskeunna,
Abdi sanes toekang dangding,
Noe diadjar ngarang the sabisa-bisa

Manawi djadi mangfa’at, ka sadaya moerangkalih, terang tjarios karoehoenna, soegan aya anoe hasil, pikeun misil ka diri, pieunteungen anoe hiroep, tamatna kole ngarangn,
Maart doea ploeh opat jakti, Slapanwelas ratoes poeudjoel genepwelas.
( Sinom )

Alhamdulillah.. Tamat
Haturnuhun / Rat_Taqy@Rocketmail.com

BAHASA SUNDA

Carita dina naskah Rasiah Pringan ieu lumangsung sabot nagri Bandung dipingpin ku Kanjeng Adipati Wiranata Koesoema. Putra ti Dalem Béntang, saurang Dalem Karanganyar. Kepribadian Dalem Bandung pohara bijak bestari, adil, sabar, sarta shaleh. Giat beribadah, sok muji Gusti kalawan sagala rupa puji-pujian. Menyembah ka Anu Maha Mulya, Gusti Alloh Anu Agung, sarta sok bershalawat ka Rasulullah saw. Kanjeng Dalem sangatlah beunghar. Loba duit loba sandang-pangan. Sato ingon-ingon teu terhitung. Sapi, Munding, Kuda, Embé, Kotok, Entog, Éntog, sarta Soang.

Dina mangsa éta Patih Bupati dijabat Raden Aria Angga Adikoesoemah. Kalawan kepribadian gagah sarta berkesan. Wijaksana nan budiman. Beristri Ayu Simbar. Saurang Patih turunan Dalem Gajah. Patih anu pohara satia, patuh, sarta taat ka paréntah Dalem.

Jurutulis Patih dijabat ku Raden Djajakoesoemah anu gagah sarta berkesan, pangsingerna di mangsana. Pasih nyarita sarta metot dina ceuk kecap. Jurutulis pandai membujuk amis, sedep dina pengucapan, sarta alus budi.

Sabot éta Bandung diparéntah ku Asisten Résiden Nagel. Manéhna maréntah Bandung nepi ka ahir hirupna. Nagri Bandung maju, gemah ripah tur raharja. Jalan-jalan diatur rapih. Saluran cai diwangun. Tegalan sarta pedataran dibuka, dibersihkeun sarta dirapihkan.

Komandan soldadu dijabat ku Raden Mertadiradja. Saurang Létnan Perang. Senapati nagri Bandung, membawahi saratus soldadu. Berperawakan luhur, pemberani, berjanggut leubeut, sarta berkumis kandel. Ditakuti para soldadu.

Sersanana saurang Walanda ngaranna Tuan Reijs.
Soldadu Sunda ngaranna Ki Martagoena, sarta kopralnya ngaranna Mastaredja.
Lulugu anu mengepalai pulo Jawa nyaéta Raden Djajapoespita, menak ti Jawa Wétan.

Jaksa nagri Bandung anu mingpin kapulisian nyaéta Raden Demang Mangoennagara anu nguruskeun kaadilan di nagri Bandung. Penghulu Agung di Bandung, ngaranna Raden Ardi, pamingpin kaagamaan ngaranna Raden Haji Abdurrahman.

Jurutulis kantor Bupati ngaranna Ki Tumenggung Raden Adinagara, anu berbudi sarta henteu kungsi nguciwakeun. Pangurus Bende di Paseban nyaéta Ki Lengser Pa Sawali, berpangkat pangleutikna, anu nyalabarkeun kabéh paréntah Bupati. Kumetir Kopi dijabat ku Den Mandoeraredja. Mantri dina nagri dijabat ku Den Sastranagara putra Kanjeng Adipati Wiranata Koesoema.

Wedana Rongga ngaranna Mas Kétapraja. Wedana Cihea ngaranna Najadjibdja. Wedana Cisondari ngaranna Den Wangsakoesoema. Demang Rajamandala ngaranna Mas Wangsapraja, anu mingpin distrik Rajamandala. Wedana Ciparay ngaranna Rangga Abukari. Wedana Majalaya ngaranna Den Rangga Anggawiredja, asal Parakanmuncang. Jaksa di Majalaya, sarta mengepalai kapulisian ngaranna Mas Djajadipa.

Wedana Ujungberung bagian wétan ngaranna Raden Raksamanggala. Wedana distrik Banjaran ngaranna Den Satjanagara, boga gelar Aria, sarta nyekel kalungguhan kalawan titel Aria Satjanagara. Wedana distrik Cicalengka ngaranna Raden Anggadiredja putra Kanjeng Bupati. Wedana Cimahi ngaranna Den Wiranagara putra Anggadinata, saurang urut Jaksa nagri Bandung anu saterusna digantian ku Biskal Mangoennagara.

Wedana Blubur Limbangan ngaranna Mas Arsaen. Wedana distrik Tarogong ngaranna Den Raksadiraja. Wedana Cikembulan ngaranna Rangga Djajaredja, anu disayangi ku Asisten Résiden. Wedana Lembang ngaranna Raden Ardikusuma, saurang menak berbudi sarta singer, putra kahiji Tumenggung Raden Adinagara anu berkantor di Bandung.

Résiden di Cianjur sabot éta téh Tuan Van Der Kapellen. Bupati Cianjur ngaranna Kanjeng Adipati Raden Prawiradiredja. Patih Cianjur ngaranna Den Natanagara. Penghulu Cianjur ngaranna Moeh’mad Djen. Jaksa nagri Cianjur ngaranna Raden Tisnadilaga. Komandan soldadu anu membawahi saratus soldadu ngaranna Raden Soerianagara, putra Kanjeng Bupati. Sersan Soldadu saurang Walanda ngaranna Tuan Gracman. Sersan Sunda ngaranna Djajengjoeda. Kopral ngaranna Ki Arsani. Bis-kopral ngaranna Wangsakarama.

Gerakan Karaman Raksaparadja

Raksaparadja asalna ti nagri Majalengka. Berikrar turunan Wali. Urang Bandung nyebutkeun manéhna Ama Resi Raksaparadja, digeroan Mah Resi. Kesehariannya mengajar Élmu Weduk sarta Élmu Sakti. Élmu Jaya Kejayaan sarta Élmu Ngiles. Murid-murid ogé nambahan loba, komo aya anu asalna ti menak nonoman di dayeuh Bandung. Manéhna saurang guru anu sembunyi di Bandung. Kiai anu boga tujuan hasil materi. Pastina tukang memperdaya membodohi para murid.

Raksaparadja ngalamun. Boga niat henteu alus. Nyieun pemberontakan pikeun ngawasa nagri Bandung. Membasmi kabéh menak ambéh diuk di korsi kakawasaan. Rencanana indit ka Kidul, diditu aya Pasanggrahan anu strategis dijadikeun benteng pertahanan sarta markas soldaduna. Pasanggrahan aya di Gunung Tjajoer anu luhur sarta datar, nyanghareup ka sagara basisir. Lokasi pasanggrahan aya di wewengkon nagri Cianjur, distrik Cidamar wates taneuh Sukapura, sarta Bungbulang minangka wates nagri. Benerna aya di kampung Cikawung.

Pikeun ngajalankeun rencanana, Raksaparadja nyamur minangka Maha Resi. Babarengan rombongan pamilu, maranéhanana indit jero peuting ti Bandung. Leumpang kaarah sisi Sagara. Ngaliwatan Pangaléngan saterusna ka Caringin sarta asup ka Cisewu anu aya dihandap distrik Cidamar.

Dina saban lalampahan Raksapradja ngaku Maha Resi, saurang Pangeran Panembahan. Saurang waliyullah anu kuat sarta sakti. Ngaku Prabu Sang Ratu Halipatullah, Raja Sunda anu adil. Masarakat leutik wewengkon basisir loba anu kabetot bujuk rayunya. Maranéhanana tunduk sarta taat. Harta barang ogé dibikeun. Béas, kotok, Lauk Sagara sarta Lauk darat, Peucang, sarta Kijang.

Sanggeus nepi ka, Raksaparadja sarta para pamiluna mimiti ngadegkeun markas di taneuh datar anu nyanghareup ka sagara. Imah-imah diwangun kawas keraton. Imah para nu ngajaga berjajar, anu dikepalai ku Senapati. Berderetan pamilu Raksaparadja, Maha Wiku anu diagung-agungkan, dielu-elukan kalawan sebutan Ratu Sunda pamingpin nagri.

Para pamilu geus ngahontal ratusan. Maranéhanana asalna ti kampung-kampung, ti dusun-dusun. Beurang peuting sok berpesta makan-minum. Menjagal Munding anu dicokot ti tegalan batur. Menjarah paré sarta béas. Unggal poé datang ka kampung-kampung. Jelema anu henteu sapuk kabur ti kampungna, sedengkeun maranéhanana anu takluk diiring ka Pasanggrahan. Pasanggrahan jadi sejahtera. Tumbak sarta pakarang siap samanéhna, hasil ti menjarah kampung. Pélor dibeuli ti Bandung ku pamiluna anu nyamur jadi padagang.

Guru palsu Raksapraja beurang peuting ngajarkeun élmu kesaktian ka ratusan pamilu. Élmu kuat ku pakarang, élmu ambéh kulit kuat ku pélor. Kabéhanana hormat, sembah sujud mengkultuskan Maha Resi, disebut Sinuhun Gusti.

Jalma-jalma Désa anu ditalukkeun Raksaparadja asalna ti kampung Bantar Kamuning, Cikaso, Cidaun, sarta Pangaléngan. Sirah kampung anu henteu takluk tuluy kabur, leumpang sarta asup ka Sindangbarang sarta ngalaporkeun hal kasebut ka petinggi distrik.

Pikeun angkatan perang, Raksapraja ngistrénan 10 Senopati. Anu kahiji ngaranna Bapa Kasman disebut Pangeran Génjreng. Kadua Bapa Isman disebut Pangeran Bradjagelap. Katilu Bapa Kainem disebut Pangeran Bradjaloemajoe. Kaopat Aki Santi disebut Pangeran Senapati. Kalima Pa Kainah disebut Pangeran Bradjagantang. Kagenep Aki Raiman disebut Pangeran Grantangtjoer’ga. Katujuh Bapa Raesin disebut Pangeran Ombaksagara. Kadalapan Bapa Alnam disebut Pangeran Aria Bradjagéni. Kasalapan Bapa Ajoemah disebut Pangeran Poerbabaja. Kasapuluh Bapa Hasim disebut Pangeran Oejoenglaoetan. Éta pisan sapuluh urang anu dijadikeun kapala soldadu.

……….
Pakean geus digantian,
Baju hideung laken sénting anoe aloes,
Sarta dipasmenan emas
Dina beuheung leungeun sami.

Calana lépas kapalang,
Lakén hideung jeung make gigireun / sabeulah batik,
Njoren kerisna dipoengkoer,
Katoehoe njoren gobang,
Ti kentjana na njoren deui balieung,
Langkung ginding jelema sisi
(Pangkoer)

Ambu Hawuk: Ratu Prameswari Panembahan

Kampung Bunihayu distrik Karang nagri Sukapura.

Dikisahkan Ki Paninggaran Alikarama moro Rusa sarta Banténg di leuweung. Di tengah leuweung manéhna némbak Banténg, tapi tetep hirup henteu rubuh nepi ka kehabisan pélor. Saterusna ditinggalkeun Banténg éta. Manéhna indit néangan pilemburan di wewengkon kira-kira leuweung. Dilamunannya, muga manéhna bisa papanggih hiji jalma anu miboga pélor, alatan teu béak pikir naha Banténg éta henteu bisa rubuh sarta mati!

Dina hiji kampung di distrik Karang.
Ki Paninggaran Alikarama nempo saurang wanoja geulis kawanti-wanti keur menenun.

“Hampura Nyai, kaci milu numpang saukur pikeun reureuh ti rasa capé?”
“Ooh, mangga!” jawab wanoja tadi bari melapangkan samak, “naha Aki bisa nepi ka ka tempat ieu. Kasasar di tengah leuweung?”

Bari reureuh Ki Paninggaran ngécéskeun yén manéhna daék ménta bantuan, jikalau Nyi Mas boga timah atawa bubuk beusi anu henteu terpakai. Di leuweung tadi manéhna némbak Banténg tapi henteu rubuh nepi ka kehabisan pélor. “Lamun memang aya, Nyi Mas daék jual sabaraha?”

Tanpa basa bari, wanoja éta asup kadina. Teu lila saterusna manéhna kaluar menghampiri Ki Paninggaran Alikarama bari mawa wadah. Ki Paninggaran Alikarama reuwas henteu kepalang. Kalawan ngajenghok. Bari panon molotot reuwas. Eusi wadah éta tétéla pélor anu manéhna tembakkan ka Banténg di leuweung tadi! Heran.

“Pantas waé Banténg tadi henteu rubuh, alatan memang euweuh anu kena!”
“Kabéh pélor ieu memang kena ka awak kuring, tapi euweuh anu nembus sedikitpun. Ngan adek ka lawon kabaya sarta baju,” jawab Nyi Mas tenang, “ tuluy kabéh pélor ieu dikumpulkan. Ayeuna mangga cokot balik kabéhanana. Sabab kuring henteu boga bedil. Mangga ….!”

Kalawan pinuh hormat sarta reuwas, Ki Paninggaran Alikarama geura-giru nyokot kabéh pélorna sarta geura-giru pamit undur balik.

“ Kuring pamit balik, tapi saméméhna…. Sabenerna Nyi Mas ieu saha?”
“ Kuring Ambu Hawuk. Ieu imah kuring. Unggal poé ngan bertani sarta menenun sorangan.”

Ki Paninggaran Alikarama geura-giru indit ka leuweung sarta neruskeun perburuannya.

Kalawan hasil buruan.
Ki Paninggaran Alikarama nyaritakeun ngeunaan Nyi Ambu Hawuk anu kuat ditémbak pélor ka babaturanana. Manéhna yakin lamun wanoja kasebut nyaéta wanoja sakti titisan Dewata. Tuluy ngajak réncang sakampung ambéh diajar sagala rupa kesaktian. Berguru élmu sihir dina Ambu Hawuk.

Datang ti unggal kampung ngabrul nepungan Ambu Hawuk. Ménta ambéh sudi mengangkat murid. Sagala rupa kado dibikeun, dahar ngeunah, duit loba, daging Kotok, daging Embé sarta sajabana. Kabéhanana dihaturkan pikeun Ambu Hawuk.

Poé baganti poé. Warsih baganti warsih. Guru Ambu Hawuk beuki kaceluk. Buah biwir diunggal kampung. Didatangi sagala rupa jelema. Kabéh ngaharepkeun jadi pamiluna. Berguru élmu kebal pélor. Latihan élmu sakti sarta sihir.

Sanggeus ngarasa jumlah murid cukup loba. Guru Ambu Hawuk tuluy mendatangi pilemburan sarta pilemburan. Beuki loba kampung didatangi, nambahan ogé murid sarta pamilu. Léngkah lalampahan nepi ka di kampung Kolelega anu aya di handapeun nagri Bandung distrik Tarogong. Sanggeus loba anu takluk sarta robah jadi pamilu satia, Ambu Hawuk ngadéngé yén aya hiji karajaan anyar di basisir basisir. Di ditu geus ngariung sapuluh Pangeran, anu sok satia ka Sang Pangeran Aria Raksaparadja.

Sanggeus berunding kalawan para pamilu, Ambu Hawuk sapuk pikeun indit ka Raksaparadja. Para pamilu leumpang ngaliwatan kampung Cisurupan, saterusna ka Tegalpadung. Tuluy nepi ka ka tempat karaton Raksaparadja.

Nu ngajaga benteng mengibarkan tanda. Benteng ngadadak anu dijieun ti kai sarta awi anu diruncingkan. Aya sémah saurang Guru sakti Nyi Dewi Ambu Hawuk! Kalawan saragam dines anu pepek sapuluh Pangeran geura-giru ngabagéakeun hormat.

“Putri Dewata,.. mangga geura-giru asup ka Karaton!”

Sanggeus asup karaton, Panembahan Raksaparadja geura-giru ngabagéakeun sarta mempersilahkan diuk di tahta singgasana.

“Panembahan! Hamba babarengan para pamilu laér-laér datang kahayu ambéh meunang kemuliaan. Kemuliaan ti Panembahan anu geus termasyhur di Pasundan. Raja pangawasa wewengkon Sunda. Hamba hayang sumerah milu ngagabung babarengan Paduka!” Rayu Ambu Hawuk.

Raksaparadja geus paham dina kahayang Ambu Hawuk. Geura-giru manéhna dijadikeun Ratu Prameswari Panembahan, Nyai Ratu Sekar Datulaya, digeroan Neng Dewi Sekar Kadaton.

Samentara di unggal distrik …

Wedana Cidamar meunang laporan aya pemberontakan di basisir basisir. Sirah Karaman dipikawanoh kalawan ngaran Raksaparadja, sarta pamajikanana Ambu Hawuk. Maranéhanana ngabogaan loba soldadu. Geus diangkat sapuluh pangeran. Dijieun para soldadu anu saban poé diajarkan perang di Tegalan ku para Senopati.

Geura-giru Wedana Cidamar ngalapor ka Bupati nagri Cianjur:
Geus aya pemberontakan anu dikepalai Raksaparadja anu siap berperang. Manéhna datang ti nagri Bandung, ti désa Regol. Manéhna asalna ti Majalengka, sarta jadi guru élmu sihir.

Geura-giru Wedana Bungbulang ngalapor ka Bupati nagri Sukapura:
Geus aya pemberontakan anu dikepalai Raksaparadja anu siap berperang. Manéhna datang ti nagri Bandung, ti désa Regol. Manéhna asalna ti Majalengka, sarta jadi guru élmu sihir.

Wedana Banjaran Aria Satjanagara ogé ngadéngé béja ayana pemberontakan. Geus loba jelema terpengaruh. Kaasup urang Pangaléngan. Geura-giru manéhna ngalapor ka Bupati nagri Bandung.

Ka Bupati Bandung anu dipihormat!
Geus aya pemberontakan di sisi sagara Cidamar – Kandangwesi. Anu jadi lurah Karaman nyaéta Raksaparadja ti désa Regol, di sisi dayeuh kraton Bupati. Asalna ti nagri Majalengka. Ayeuna geus ngumpulkeun wadia-balad. Geus diangkat sapuluh senopati. Warta ti Pulisi sépion gelap, Pangeran Génjreng jadi senopati, Pangeran Bradjagélap jadi Tamtama, Pangeran Bradjasakti, Pangeran Baradjagrantang, Pangeran Bradjagéni sarta para pangeran séjénna. Sarta aya hiji wanoja, nyaéta Ambu Hawuk, asalna urang Karang di handapeun nagri Sukapura, sarta geus jadi pamajikan permaisuri Raksaparadja. Éta pisan warta ti Pulisi Rusiah.
Sembah Sujud ….
Satjanagara

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s