KH. Ahmad Sanusi

Ahmad Sanusi (Sukabumi, Jawa Barat, 1888-Sukabumi, 1950) adalah tokoh Partai Sarekat Islam (SI) dan pendiri al-Ittihadiat al-Islamiyah. Ayahnya, Haji Abdurrahman, adalah tokoh masyarakat dan pengasuh pesantren di desanya. Ahmad Sanusi memperoleh pelajaran agama dari orang tuanya sampai ia berusia lima belas tahun. Setelah dewasa ia lalu belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Barat selama kurang lebih enam tahun.

Seusai pelajarannya, Ahmad Sanusi kembali ke kampung halamannya untuk membantu mengajar di pesantren ayahnya. Tahun 1908 ia menikah dan pergi haji ke Mekah bersama istrinya serta bermukim di sana beberapa waktu lamanya. Dalam kesempatan itu ia telah mengenal tulisan para pembaru, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Ia tetap berpegang pada madzhab Syafi’i yang beraliran Ahlusunnah waljama’ah.

Pada tahun 1915 Ahmad Sanusi kembali mengajar di pesantren ayahnya selama kurang lebih tiga tahun. Kemudian ia membangun pesantren baru sebagai pengembangan dari pesantren ayahnya di kaki gunung Rumphin, sebelah barat kota Sukabumi. Di tempat ini Ahmad Sanusi berhasil mengembangkan pengetahuan agamanya secara mandiri, sehingga pesantrennya cepat berkembang. Santrinya tidak hanya berasal dari Sukabumi, tetapi juga dari luar daerah dan luar Pulau Jawa.

Ahmad Sanusi sebagai tokoh SI aktif dalam usaha mengusir kolonial Belanda dari tanah air. Akibatnya, ia menjadi tahanan politik selama tujuh tahun di Batavia. Selama di pengungsian, ia menulis buku dan membentuk suatu organisasi yang bernama al-Ittihadiat al-Islamiyah pada tahun 1931.

Setahun kemudian, ia kembali ke Sukabumi, menangani organisasi al-Ittihadiat al-Islamiyah, dan pada tanggal 5 Februari 1933 mendirikan lembaga pendidikan Syams al-‘Ulum yang lebih dikenal dengan Pesantren Gunung Puyuh. Selain itu Ahmad Sanusi juga menerbitkan majalah al-Hidayah al-Islamiyah (Petunjuk Islam) dan majalah at-Tabligh al-Islami (Dakwah Islam) sebagai bahan bacaan dalam rangka da’wah bi al-lisan (dakwah yang disampaikan secara lisan).

Al-Ittihadiat al-Islamiyah akhirnya dibubarkan oleh penguasa Jepang. Namun ia mengadakan konsolidasi dan mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Umat Islam (PUI).

Ahmad Sanusi diangkat menjadi salah seorang instruktur latihan yang diselenggarakan untuk mengadakan konsolidasi politik Jepang terhadap umat islam. Pada tahun 1944, ia diangkat oleh Jepang sebagai wakil residen di Bogor.

Secara resmi Ahmad Sanusi mewakili PUI dalam Masyumi. Sampai menjelang kemerdekaan republik Indonesia, dia tercatat sebagai anggota panitia Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPIPKI). Namanya dicoret dari keanggotaan BPUPKI karena ia dianggap terlalu banyak memihak Islam. Hal ini dilakukannya dengan tujuan agar kelak Indonesia merdeka menjalankan peraturan yang berdasarkan syariat Islam. Kemudian Ahmad Sanusi kembali menulis. Tidak kurang 75 buku telah ditulisnya, antara lain kitab Tamsyiah al-Muslimin fi Kalam Rabb al-Alamin (Perjalanan Muslimin dalam Firman Tuhan Seru Sekalian Alam), dan Raudah al-Irfan (Taman Ilmu Pengetahuan). Ia juga menulis buku-buku yang membahas ilmu tauhid dan fikih.***

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s